Pergi ke medan perang dan yakin menang maka anda akan pulang tanpa luka apa pun; Terlibat dalam pertempuran sepenuhnya dan bertekad untuk mati maka anda akan tetap hidup; ingin bertahan hidup dalam pertempuran dan pasti anda akan mati. Ketika meninggalkan rumah dan bertekad untuk tidak melihatnya lagi maka anda akan pulang dengan selamat. Uesugi Kenshin (1530-1578).
Itulah sepenggal kalimat yang menggambarkan semangat para samurai. Dilihat dari asal katanya, huruf kanji untuk samurai adalah 侍 yang berarti menunggu atau melayani, karena tugas utamanya melayani seseorang yang memiliki status sosial lebih tinggi seperti para Kaisar. Pada abad ke-12, samurai menjadi identik sebagai ksatria 武士. (http://en.wikipedia.org/wiki/Samurai).
Sifat dan semangat para samurai bisa dijadikan sebagai suatu pembelajaran, sifat-sifat ini juga masih bisa dijumpai pada kehidupan masyarakat Jepang saat ini. Adapun beberapa sifat tersebut adalah:
1. Totalitas
Totalitas akan melahirkan sifat disiplin dan bersungguh-sungguh dalam mengemban tugas. Sebelum siap menjadi seorang samurai dan pergi berperang, para calon samurai menjalani latihan, baik berupa latihan fisik terutama ilmu pedang dan juga latihan spiritual. Sehingga tercipta keseimbangan antara kekuatan fisik dan ketenangan pikiran. Masyarakat Jepang saat ini dikenal sebagai workoholic dan juga memiliki disiplin yang tinggi, selain itu mereka masih mempertahankan nilai-nilai spiritual tradisional yang dipengaruhi oleh nilai-nilai agama Budha dan Shinto.
2. Keyakinan
Rasa yakin dan percaya diri dapat menjalankan tugas adalah salah satu sifat seorang samurai. Sifat ini memberikan aura positif akan keberhasilan. Kekuatan keyakinan ini juga telah diakui oleh orang-orang sukses, seperti yang dikatakan Henry Ford: ” Jika kamu berpikir bisa atau kamu berpikir tidak bisa, maka mungkin kamu benar.
3. Tanggung Jawab
Seorang samurai tidak segan untuk melakukan tindakan “harakiri” atau bunuh diri jika gagal mengemban tugas. Bagi mereka kehormatan lebih penting dibanding kehidupan. Budaya bertanggung jawab ini masih bisa dijumpai sampai sekarang. Japan’s Finance Minister Shoichi Nakagawa has resigned, amid claims that he was drunk at a recent G7 meeting (BBC News Tuesday, 17 February 2009). Berita ini menyebutkan tentang pengunduran diri Menteri Keuangan Jepang karena ketahuan mabuk pada saat KTT G7 berlangsung, diperparah lagi karena saat ini Jepang sedang terkena krisis ekonomi. Mudah-mudahan sifat berani bertanggung jawab seperti ini juga bisa ditiru dan diterapkan oleh para pejabat Indonesia.
Itulah beberapa sifat yang terus mempengaruhi kebudayaan masyarakat Jepang sampai sekarang. Sebagai hasil Jepang mampu menjadi negara maju dengan tetap menjaga tradisinya dan tumbuh menjadi salah satu kekuatan ekonomi dunia. Survei tahun 2009 masih menempatkan Jepang sebagai kekuatan ekonomi terbesar kedua setelah Amerika dan masih sedikit diatas Cina dengan PDB sekitar 5,1 triliun dollar.
Jika melihat sejarah dan peradaban masa lalu, Indonesia adalah salah satu negara besar. Sebagai buktinya yaitu Candi Borobudur dan Prambanan. Sebuah mahakarya yang sampai sekarangpun orang akan terkagum-kagum membayangkan majunya kebudayaan saat itu. Banyak pengamat yang menyebut Indonesia sebagai “The Sleeping Giant” jika melihat potensi yang ada sekarang dan sejarah masa lalu ini. Indonesia sebagai bangsa besar tentulah memiliki nilai-nilai tradisionalnya sendiri, tetapi tidak ada salahnya juga jika belajar dari sifat para samurai ini, mudah-mudahan “Sang Raksasa” segera bangun dari tidurnya yang panjang…………

Tidak ada komentar:
Posting Komentar